7 Fakta Medis Tentang Gesekan Pada Gigi

Membicarakan permasalahan pada gigi dan mulut umumnya akan mengarah kepada gigi berlubang atau sari awan. Padahal permasalahan itu bisa lebih parah dan dapat datang dari sesuatu yang sederhana, seperti kebiasaan kita.

Satu masalah kesehatan mulut yang jarang diketahui bernama bruxism atau lebih dikenal gesekan pada gigi. Dalam tingkat rendah, bruxism tidak memberikan dampak apa-apa. Namun untuk kondisi yang lebih parah, masalah tersebut dapat membuatmu merasakan sakit kepala. Berikut ini adalah penjelasan mengenai kesehatan tersebut.

1. Masalah bruxism bisa terjadi saat kamu terbangun maupun tertidur

Bruxism dideskripsikan lewat Journal of Counservative Dentistry sebagai aktivitas otot pada rahang yang berulang dan dikarakteristikkan dengan rahang yang mengepal atau menggiling. Pergesekan pada gigi ini diasosiasikan dengan permasalahan fisik sekaligus mental. Para dokter tidak bisa mengetahui penyebab pastinya, akan tetapi mereka menggolongkannya menjadi dua tipe: bruxism terbangun dan bruxism tertidur.

Dalam jurnal yang dirilis Brazilian Dental Journal pada 2014, bruxism tertidur dideskripsikan sebagai parafungsi dari gerakan tidur yang dapat dikaitkan dengan gangguan-gangguan tidur lainnya. Bruxism tertidur lebih diasosiasikan dengan permasalahan posisi tidur yang tidak benar, sedangkan bruxism terbangun lebih mengarah kepada masalah mental seperti cemas, marah, frustasi dan lainnya.

2. Bruxism terbangun lebih banyak dialami orang dewasa ketimbang bruxism tertidur

Data angka yang tertulis pada artikel di Journal of Counservative Dentistry menyebutkan orang dewasa lebih banyak mengalami bruxism terbangun ketimbang yang tertidur. Angka penderita bruxism tergolong bervariasi, dari 22,1 persen hingga 31 persen. Sedangkan untuk yang bruxism tertidur, angkanya konsisten di 13 persen.

Data penderita bruxism tertidur susah diprediksi ketepatan angkanya mengingat kebiasaan kala tidur sering dilakukan secara tidak sadar dan susah diakui penderitanya. Dikatakan juga bruxism terbangun cenderung lebih banyak dialami oleh para perempuan. Bertambahnya umur juga mengurangi frekuensi masalah ini.

3. Anak kecil juga bisa mengalami masalah ini

Webmd.com menyebutkan jika anak-anak dapat pula mendapatkan gangguan ini. Angkanya memang bervariasi, yaitu dari 15 persen hingga 33 persen, tetapi umumnya ini terjadi saat gigi susu dan gigi permanen mulai muncul. Kebanyakan anak-anak akan kehilangan kebiasaan menggesek giginya ini setelah dua set gigi muncul sepenuhnya.

Umumnya yang dialami anak-anak adalah bruxism tertidur. Ini harus diawasi karena dapat menyebabkan permasalahan kesehatan yang lain. Untuk mengatasi masalah ini pada anak kecil, kamu perlu berkonsultasi dahulu terhadap dokter gigi, khususnya jika anak tersebut sudah mengeluhkan rasa sakit.

4. Besar kemungkinan terkena bruxism jika mengidap gangguan mental

Mayo Clinic menjabarkan beberapa faktor yang dapat meninggikan risiko terkena bruxism. Stres adalah penyebab paling umum. Lalu ada masalah kepribadian. Dituliskan kepribadian yang cenderung keras, agresif, hiperaktif dan kompetitif bisa mengarahkan seseorang ke masalah mulut ini. Yang cukup mengejutkan adalah bisa jadi bruxism datang dari bawaan keluarga.

Dua faktor lainnya adalah masalah kesehatan mental dan fisik, serta obat-obatan. Penderita Parkinson, dementia, bahkan GERD bisa mendapatkan bruxism, terlebih jika dipicu oleh obat-obatan mengingat beberapa obat memberikan efek samping macam ini.

5. Dalam kondisi yang parah, bruxism bisa menyebabkan kerugian bagi penderitanya

Gesekan pada gigi dipercaya tidak memberikan dampak yang terlalu besar pada kehidupan penggunanya. Namun jika masalah itu sudah terlalu parah, penderitanya dapat memperoleh masalah lain. Artikel pada Journal of Counservative Dentistry menyebutkan masalah-masalah tersebut:
  • Kerusakan atau keretakan pada gigi
  • Hipersensitif
  • Penampilan gigi yang tidak bagus
  • Wajah yang tidak simetris
  • Tidur menjadi terganggu
  • Produksi air liur yang berkurang
  • Mudah tergigitnya lidah, bibir atau pipi
6. Bruxism bisa didiagnosis lewat kondisi gigi

Masih lewat artikel yang sama, ada beberapa guna mendiagnosis seseorang apakah dia mendapatkan bruxism atau tidak. Yang pertama adalah memperhatikan frekuensi suara dari gigi yang tergesek di kala tidur dan yang satu melihat kondisi giginya. Kerusakan gigi yang tidak normal, adanya rasa sakit pada rahang, kelelahan hingga sakit kepala bisa menjadi tanda-tanda seseorang terkena bruxism.

Diagnosis tersebut akan diperiksa lebih mendalam menggunakan alat electrophysiological. Hasil lab tentang aktivitas otak juga bisa membantu menentukan seseorang terkena bruxism atau tidak.

7. Tidak ada obat penyembuh untuk bruxism

Diakui jika masalah gigi yang bergesek dan tergerus ini tidak memiliki penanganan pasti yang bisa menyembuhkan dan menghentikan terjadinya bruxism sepenuhnya. Besar kemungkinan dokter akan memberikan sejumlah resep obat untuk diminum. Obat tersebut bisa berupa clonidine, L-dopa, atau clonazepam.

Ada pula perawatan dengan menggunakan hipnoterapi, terapi kognitif, terapi kebiasaan dan manajemen relaksasi. Selain obat, dokter akan memberikan pelindung mulut. Gunanya adalah untuk mengurangi gerusan pada gigi ketika tidur.

Bruxism cukup merepotkan mengingat kamu bisa melakukannya secara tidak sadar. Jika kamu merasakan sensasi tidak nyaman dengan gigimu, segera saja periksakan ke dokter gigi tanpa menunggu lama. Kamu tidak mau kondisi gigimu menjadi lebih parah, bukan?

Tidak ada komentar